PARTAI POLITIK PROPAGANDA KEKUASAAN
PARTAI
POLITIK PROPAGANDA KEKUASAAN
PENDAHULUAN
Para pemimpin politik muncul sebagai
individu yang berani untuk membangun kompromi dengan pihak lain untuk
membebaskan negara. Langkah-langkah pemimpin politik menentukan arah dan tujuan
perjuangan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemimpin politik adalah
sumber kekuatan dasar. Jadi pemimpin harus membangun organisasi sebagai wadah
yang disebut partai politik. Partai politik menurut Edmund Burke “sebuah
majelis yang terorganisasi dari para pria, bersatu untuk bekerja bersama demi
kepentingan nasional, sesuai dengan prinsip tertentu yang mereka sepakati,”
(Ball, Alan R., 1985). Sementara itu, menurut Max Weber “hubungan asosiatif,
dan afiliasi berdasarkan rekrutmen gratis. Tujuannya adalah untuk memastikan
kekuatan bagi para pemimpinnya dalam kelompok-kelompok yang dilembagakan, untuk
mewujudkan cita-cita kebebasan menuju kesejahteraan rakyat. Dan wadah atau
lembaga yang telah diakui adalah partai politik.
Partai politik pertama kali lahir di
negara-negara Eropa Barat bersama dengan gagasan bahwa orang-orang adalah fakta
yang menentukan dalam proses politik. Di mana elit politik merupakan
representasi rakyat. Itu harus disatukan dalam partai politik. Jadi diharapkan
partisipasi masyarakat untuk mengambil bagian. Sejak era Socrates, Plato,
Aristoteles banyak membahas politik tetapi partai politik belum. Pada abad
ke-19 baru mulai muncul partai politik tepatnya di Jerman dan Austria. Fungsi
partai politik pada waktu itu memberikan pendidikan politik kepada publik.
Pendidikan politik yang diberikan melalui parpol ini menunjukkan bahwa partai
politik memainkan peran penting demi kepentingan rakyat. Sedangkan elit partai
politik ditentukan oleh rakyat. Maka hubungan antara rakyat dengan elit politik
ada saling ketergantungan.
Saling ketergantungan dapat dilihat dari
rakyat memilih elit politik lewat partai sedangkan elit politik berkewajiban menjalankan
amanahnya rakyat. Karena rakyat menjamin seluruh kehidupan elit politik. Namun
elit yang sudah dipilih rakyat bukan mengurus nasib rakyat tetapi berusaha
dengan semua cara menguasai haknya. Untuk menutupi diri dibangunlah propaganda.
Propaganda untuk mempertahankan diri di tampuk kekuasaan. Partai politik
memainkan propaganda karena merupakan organ negara yang teratur dan stabil. Sehingga
Carl J. Friedrich mengemukakan: “Sebuah Partai politik adalah sekelompok
manusia, yang diatur secara stabil dengan tujuan mengamankan atau
mempertahankan pemimpin-pemimpinnya untuk mengendalikan pemerintahan, dengan
tujuan lebih lanjut memberi kepada anggota partai, melalui kontrol seperti itu
ideal dan manfaat dan keuntungan material ”, (Meriam Budiardjo, 1982). Karena
faktor keuntungan material inilah yang membuat para elit partai politik memainkan
propaganda untuk tetap berkuasa. Karena sudah ada batasan pada UU sehingga
propaganda merupakan salah satu cara untuk tetap mempertahankan kekuasaan. Hal ini
yang menjadi dilemah bagi kedua belah pihak baik rakyat dan elit politik.
Rakyat
percaya bahwa partai politik adalah organ dalam negara. Namun elit politik
tidak amanah yang salah gunakan partai politik. Era modern negara dalam bentuk kerajaanpun semua
urusan nasib rakyat diserahkan kepada partai politik. Seperti Inggris. Di mana
elit politik di partai harus bersaing untuk mendapatkan kepercayaan dari
rakyat. Persaingan tidak sehat antar elit politik pemilihan umum adalah jalan
keluarnya. Elit politik yang pandai melihat rakyat yang belum tersentuh dipilih
sebagai nilai jual. Dan bahkan nama partai yang diabadikan sesuai latar
belakang (kondisi) rakyat. Seperti partai buruh. Asumsi elit politik memberi
nama partai politik selalu melihat (mengamati) pola pikir masyarakat tentang
kondisinya. Jika gaya hidup masyarakat bersifat sosial, maka partai diberi nama
partai sosialis. Edmund Burke menjelaskan partai politik dari aspek pembentukan
partai, Leon D. Epstein mendekati gagasan partai politik dari aspek
karakteristiknya serta Giovani Sartori. Sementara Maurice Duverger mendekati
gagasan partai politik melalui struktur keanggotaan partai. Samuel J. Elderveld
berbicara tentang partai politik dari aspek perilaku kelompok sosial. Partai politik
dibentuk untuk mewakili rakyat, mempengaruhi perubahan akses ke keragaman yang
ada dan kebangkitan untuk kepentingan politik dengan segala konsekuensi dan
tanggung jawabnya, (Iclasul Amal, 1988). Secara tidak langsung partai politik
adalah penentu eksistensi negara. Ini bisa dilihat dari persaingan
partai-partai politik yang berjuang merebut kekuasaan. Di mana partai politik
yang memiliki sumber kekuasaan dalam hal materi, sumber daya manusia, akan
selalu mendapat dukungan dari rakyat.
PEMBAHASAN
Elit
Partai Politik
Sistem kekuasaan di dunia kini telah
berubah. Kekuasaan raja tidak diikusertakan karena partai politik yang mengatur
nasib rakyat. Untuk menciptakan kemakmuran
akibat kekuasaan raja yang selalu abaikan rakyat. kesejahteraan rakyat
menjadi dasar pembentukan partai politik. Elit-elit masyarakat berkumpul
membangun gerakkan politik. Dan membentuk partai politik sebagai organ negara
yang sah. Tugas dan fungsi utama adalah kesejahteraan rakyat. Partai politik
menyerap aspirasi rakyat dan merekrut elit-elit masyarakat. Di partai politik
para elit membangun hubungan antar elit. Hubungan antar elite senantiasa
terjalin komunikasi sehingga kreasi maupun semangat dari suatu generasi
dilanjutkan atau diterjemakan ke dalam bentuknya yang baru oleh generasi
berikutnya, (HM, Nasruddin Anshoriy Ch, 2008). Dan ini adalah proses
regeneralisasi demi keberlanjutan suatu bangsa.
Pembenahan partai politik diperlukan
untuk menghadapi "ketidaktahuan dan keserakahan" kelas penguasa yang
menindas rakyatnya sendiri untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Ini
sama seperti Dokter Juan Bautista Justo, direktur jurnal dan pemimpin utama
sosialisme Argentina sampai kematiannya pada tahun 1928, (Lucas Poy, 2018)
Tujuan pembenahan ini untuk menciptakan sistem politik yang efektif dan
efisien, untuk melahirkan elit politik yang etis dan bermoral dalam menjalankan
mandat rakyat. Reformasi ini dilakukan secara internal sementara pendidikan
politik yang dikenal secara eksternal. Levenson mengatakan pendidikan tampaknya
ada perubahan besar dalam cara orang mendefinisikan warga negara yang baik.
(Massialas, Byron.G Oktober 1970). Negara berkembang demokrasi selalu
dikendalikan oleh penguasa melalui media massa.
Media sebagai pengontrol partai politik,
elit, dan mediasi pribadi mereka, sehingga tidak mensosialisasikan demokrasi, (Muhammad
Thaufan Arifuddin, 2016) Ini jelas dengan kondisi politik di negara berkembang
bahwa elit penguasa selalu menekan media massa agar tidak mempublikasikan
hal-hal yang membahayakannya. Kekuasaan seperti yang didefinisikan oleh Max
Weber, adalah probabilitas mewujudkan tujuan sendiri bahkan melawan oposisi
orang lain, (Hess Markson Stein, 1988). Oposisi ini terdiri dari elit politik
yang merasa partainya tidak termasuk dalam kelompok yang berkuasa. Oleh karena
itu, oposisi adalah bagian dari demokrasi sehingga partai politik wajib mengawasi
pihak yang sedang berkuasa. Sebab politik menaruh minat pada isu-isu kolektif,
dengan tujuan-tujuan yang mengatasi tuntutan-tuntutan kelompok-kelompok
tertentu,...menyatukan tuntutan dari kelompok-kelompok yang berbeda,
(Maurice Duverger, 2014). Dan ini yang merupakan salah satu ciri dari
demokrasi. Pada kenyataannya, orang yang hidup di dunia demokratis
terbuka terhadap perubahan dan perdebatan tentang hak dan kebebasan mereka. (Jamilah
Ahmad, 2010).
Elit partai politik yang tidak berkuasa
merasa bebas dan memiliki hak untuk memprotes penguasa yang tidak mematuhi
kesepakatan (UU). Tetapi untuk penguasa yang otoriter selalu tidak menerima
kritik dari individu, kelompok, terutama partai politik. Menurut Poulantzas
(1973) dari perspektif konflik, kekuasaan biasanya dianalisis dalam hal
"kapasitas kelas sosial untuk mewujudkan tujuannya," (Hess Markson
Stein, 1988). Dengan demikian, para elit yang di partai politik umumnya hanya
bersaing satu sama lain untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka berjuang melalui
partai-partai politik karena partai politik adalah sumber utama kekuatan dalam
sistem demokrasi. Jelas bahwa nilai-nilai keadilan terbelah oleh praktik
politik transaksional, (Busyro Muqaddas, 2018). Pertarung elit politik untuk
merebut kekuasaan dengan cara apapun rakyat tetap merasakan (mendapatkan) dampaknya.
Sebab rakyat sebagai objek dan subjek dalam pertarungan elit politik untuk
merebut kekuasaan yang di miliki oleh rakyat. Dan cara yang tidak sehat adalah
propaganda.
Jalan
Menuju Kekuasaan
Alam
demokrasi partai politik merupakan syarat utama atau mutlak. Dengan asumsi
bahwa ranah politik satu-satunya jalan terbaik dan tepat adalah partai politik.
Sebab negara yang menganut sistem demokrasi partai politik merupakan jalan
menuju kekuasaan. Kekuasaan dalam konteks negara maka John Locke adalah orang pertama
yang mengemukakan teori pemisahan kekuasaan negara yaitu “Two Treaties on Civil
Government” (1660). Ia membagi kekuasaan negara menjadi tiga bidang antara
lain, (a) legislatif yaitu kekuasaan
untuk membuat undang-undang; (b) eksekutif yaitu kekuasaan untuk melaksanakan
undang-undang; dan (c) federatif yaitu kekuasaan mengadakan perserikatan dan
aliansi serta segala tindakan dengan semua orang dan badan-badan di luar
negeri. Diilhami pemikiran John Locke, setengah abad kemudian Montesquieu
seorang pengarang, filsuf asal Prancis menulis buku “L’Esprit des Lois”
(Jenewa, 1748). Di dalamnya ia menulis tentang sistem pemisahan kekuasaan yang
berlaku di Inggris dengan merubah yang federatif menjadi yudikatif yaitu
kekuasaan yang dilaksanakan oleh badan peradilan (Mahkamah Agung dan pengadilan
di bawahnya).
Namun
banyak negara adopsi yang dikemukan Montesquieu. Dimana kekuasaan terbagi
sehingga tidak ada seorang yang berkuasa mutlak. Namun hal ini belum berjalan
sebagaimana mestinya. Karena untuk menduduki (menjabat) salah satu kekuasaan
harus ditentukan dengan keputusan politik. Pada ranah keputusan politik maka
harus ada campur tangan dari partai politik baik secara langsung maupun tidak.
Dengan demikian jelas bahwa kekuasaan (jabatan) dalam bentuk apapun partai
politik memegang peran penting. Dimana ada empat tipe partai politik yang
berkembang dalam demokrasi, yaitu partai elit (the elite party), partai massa (the
mass party), partai yang menangkap semua (the catch-all party), dan partai kartel (the cartel party), (Katz, Robert S. and
Richard Mair, 2002). Dari
beberapa tipe partai tersebut diatas hanya tipe partai elit atau partai kader
dan partai masa yang dianut oleh negara-negara berkembang. Maurice Duverger
(1954), partai kader memiliki struktur yang relatif longgar, berpusat pada
elit, dengan organisasi yang minimal di luar legislative, (Wolinetz (2002). Pemegang
otoritas sekalipun berada diluar legislative di partai politik sangat
menentukan kedudukan atau jabatan strategis pada lingkarang kekuasaan.
Kekuasaan ini mulai dari tingkat pusat
sampai ke tingkat paling rendah selalu dikendalikan oleh partai politik. Sebab
partai politik merupakan salah satu syarat untuk bersaing dalam merebut
kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat. Pada tahan perebutan inilah ada peluang
segala cara di gunakan untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Ketika perebutan
kekuasaan tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam regulasi maka
ini indikator elit politik yang berkuasa ambisius. Elit politik ambius yang
berkuasa akan menggunakan kekuasaan oligarki. Sekalipun yang dianut demokrasi.
Indikatornya adalah (a) kekuasaan
dalam masyarakat terdistribusikan dengan tidak merata dan hanya dimiliki oleh
orang atau sekelompok orang yang disebut elit. Dan (b) secara internal, elit
bersifat homogen, bersatu, dan memiliki kesadaran kelompok serta mengatur
sendiri kelangsungannya dan oleh karena itu elit menjadi otonom, (Mohtar M. dan
C. MacAndrew, 2006). Maka elit yang sedang berkuasaan melakukan propaganda
untuk mempertahankan kekuasaannya. Menurut Levi (1997) maksimalisasi kekayaan
kerap diterjemahkan menjadi memaksimalisasi kekuasaan atau upaya terpilih
kembali dilakukan pemimpin-pemimpin politik, (John James Quin, 2013).
Tujuan mempertahankan kekuasaan adalah ganti
orang tetapi harus dari elit partai politik yang sedang berkuasa. Ketika kalah
mempertahankan kekuasaan akan menjadi oposisi. Sikap oposisi menunjukan ciri
khas manusia rasional. Menurut William Riker (1962) secara politik manusia
rasional adalah orang yang lebih ingin menang daripada kalah, tak soal
dimanapun ia berada, (Richard A. Wandling, 2013). Berada pada posisi menurut
pandangan elit politik merupakan bagian kemenangan juga. Kemenangan yang
dikejar elit politik adalah bertahan pada posisi untuk mendapatkan simpati dari
rakyat.
Simpati rakyat bagi elit partai politik
adalah jalan menuju kekuasaan mutlak. Kekuasaan mutlak dapat menguasai segala
aspek kehidupan manusia. Aspek yang paling utama adalah ekonomi. Indikator
kekuasaan yang berorientasi pada ekonomi adalah korupsi. Banyak elit partai
politik berperilaku korupsi untuk menambah pundi kekayaan. Namun ditutupi
dengan propaganda yaitu menyampaikan pesan yang benar, namun menyesatkan. Sebab
umumnya isi propaganda menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan
pengaruh reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah mengubah
pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran demi kepentingan
tertentu. Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk
membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan mempengaruhi
langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku
propaganda yang berada ada posisi kekuasaan.
Sebab kekuasaan Politik adalah
“kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik terbentuknya
maupun akibat-akibatnya sesuai dengan tujuan-tujuan pemegang kekuasaan
sendiri”. Pemegang kekuasaan selalu memiliki banyak sumber sebagai agen propaganda.
Sumber-sumber tersebut antara lain media massa, media umum, mahasiswa, elit
politik, tokoh masyarakat ataupun militer, (Imam Hidayat, 2009). Komponen ini
yang menjadi basis para elit. Dimana masing-masing memiliki peluang yang sama
untuk berkuasa tetapi pintu atau jalan untuk menuju kekuasaan harus lewat
partai politik. Partai politik merupakan organ negara yang mengatur para elit
negara untuk di tawarkan kepada rakyat. Sebab siapapun yang berkuasa harus
berdasarkan pilihan rakyat. Sebab rakyat yang memiliki mandate atau otoritas.
Rakyat hanya menyerahkan kekuasaan kepada elit politik untuk mengurus seluruh
kebutuhan rakyatnya.
Jenis-jenis kekuasaan tersebut sebagai
berikut: (a) kekuasaan eksekutif, yaitu yang dikenal dengan kekuasaan
pemerintahan dimana mereka secara teknis menjalankan roda pemerintahan, (b)
kekuasaan legislatif, yaitu sesuatu yang berwenang membuat, dan mengesahkan
perundang-undangan sekaligus mengawasi roda pemerintahan, (c) kekuasaan
yudikatif, yaitu sesuatu kekuasaan penyelesaian hukum, yang didukung oleh
kekuasaan kepolisian, demi menjamin law enforcement/ pelaksanaan hukum, (Imam
Hidayat, 2009). Maka untuk mendapatkan atau menduduki suatu kekuasaan harus
menjadi anggota partai politik. Namun elit partai politik harus bersaing dengan
kekuatan rakyat untuk merebut kekuasaan. Karena hanya parpol sebagai sumber
utama kekuasaan dan dijamin oleh aturan (UU). (Lucas Poy, 2018).
Tanpa partai politik tidak mendapatkan
legitimasi. Dimana legitimasi kekuasaan menurut David Easton adalah kepercayaan anggota masyarakat untuk mematuhi dan
menerima kebijakan yang dibuat oleh penguasa dan memenuhi semua tuntutan yang
ada dalam rezim penguasa. Jadi perebutan
kekuasaan harus ada persaingan. Bersaing secara internal dan eksternal partai
politik untuk merebut kekuasaan. Menurut C. Wright Mills: kekuasaan adalah
dominasi, yaitu kemampuan untuk melaksanakan kehendak meskipun ada yang
menentangnya (Mr. Liang Gie, 1986). Karena semuanya selalu ditentukan oleh
sistem. Sistem politik aktif di mana ada struktur kekuasaan politik berada,
dengan semua hasil dan perbandingan yang dibuat antara game Clash of Clans
(COC), (Jann Anthony A. Magabo, 2016). Dengan jelas bahwa dalam sistem partai
politik yang berkuasa adalah kelas elit dari klan (ikatan keluar) dari yang
memiliki otoritas di partai politik.
Kekuasaan
adalah wewenang yang diperoleh oleh seseorang atau kelompok untuk menjalankan
kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, wewenang tidak
boleh dilaksanakan lebih dari otoritas yang diperoleh atau kemampuan seseorang
atau kelompok untuk mempengaruhi perilaku orang atau kelompok lain sesuai
dengan keinginan pelaku (Miriam Budiardjo, 2002) atau kekuasaan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai
dengan keinginan (Ramlan Surbakti, 2010). Sehingga apa kata penguasa sekalipun
bertolak belakang atau salah dalam konteks umum harus dilaksanakan. Perintah
yang sangat bertolak belakang dengan demokrasi adalah propaganda kekuasaan.
Sebab roh dari demokrasi adalah kebebasan dan kebenaran.
Budaya
Partai Politik
Setiap elit politik yang kuat selalu
memiliki ciri khas sebagai penguasa. Ini bisa dilihat dari latar belakang
hidupnya. Ini termasuk garis keturunan. Karena banyak elit politik selalu
berhubungan satu sama lain. Kedua hubungan itu sebagai keluarga dan sebagai
saudara. Karena dalam sistem demokrasi tidak menyetujui kekuasaan
turun-temurun. Ketika kekuasaan berjalan tidak konsisten dengan perjanjian atau
aturan itu akan membawa dampaknya sendiri. Dimana partai yang berkuasa
merasakan dampak positif. Sedangkan orang atau pihak yang tidak dilipat secara
langsung akan mendapat dampak negatif. Tapi yang disalahkan adalah partai
politik. Tetapi partai politik salah. Karena partai-partai politik disalahkan.
Begitu banyak cara dilakukan oleh partai politik untuk membela diri. Namun hal
ini berulang kali dilakukan oleh parpol yang menciptakan budaya politik. Budaya
politik mencakup baik pandangan individu tentang dirinya sebagai aktor yang kompeten
atau persepsi perannya dalam sistem politik, (Marc Hooghe, 2013).
Ini termasuk budaya untuk mempertahankan
kekuasaan. Jadi untuk menjaga kekuatan para elit politik harus melakukan banyak
strategi politik. Karena takut nantinya kehilangan kekuasaan saat pertempuran.
Pertempuran politik menempatkan kekuatan mereka yang paling mampu
melaksanakannya, dan untuk peri yang sama menjaga pesaing yang kurang
beruntung, (Maurice Duverge, 2014). Salah satu langkah antisipasi adalah individu-individu
dari lapisan bawah yang membentuk kelompok elite baru dan masuk ke dalam kancah
perebutan kekuasaan dengan elit yang sudah ada, (S.P. Varma, 1987). Disamping
itu ada strategi partai politik yang berkuasa gunakan untuk mempertahankan
kekuasaan. Antara lain propaganda
pembeli suara (money politic). Praktik
membeli suara merusak sistem demokrasi karena rakyat tidak bebas memilih. (George
T. et.al, 2017).
Namun apa pun alasannya ini adalah cara
ampuh untuk mempertahankan kekuasaan. Yakni membeli suar baik langsung di pemilih
atau melalui penyelenggara. Karena untuk perhitungan pemilih voting yang nol
hanya membawa dampak yang sangat signifikan. Dimana angka nol jika disisipkan
pada nomor dasar perolehan suara maka dengan sendirinya jumlahnya akan berubah
secara signifikan. Contoh perolehan suara di TPS 25 suara jika tertulis
menambahkan nol (0) akan mengubah jumlah hingga 250 suara. Cara membeli suara
oleh elit politik untuk merebut kekuasaan adalah kejahatan politik. Karena itu
menghancurkan nilai demokrasi. Dan ini semua perilaku buruk semua pihak yang
terlibat. Dikatakan buruk karena tidak memiliki nilai kerja, dan etika yang
baik bekerja sesuai aturan. Dengan demikian kecurangan dalam proses perebutan
kekuasaan menunjukkan bahwa penyelenggara tidak memiliki nilai kerja dan
lain-lain. Pada hal perilaku etis, nilai kerja dan kinerja termasuk
spiritualitas, (Jed P. Acero, 2016).
Sesuai dengan apa yang dinyatakan Jed P.
Acero tentang perilaku Etis, nilai kerja dan kinerja termasuk spiritualitas. Harus
dipegang teguh oleh penyelenggara dengan berani melawan para penguasa yang
mempertahankan kekuasaan dengan cara yang tidak sesuai dengan sistem demokrasi.
Penyelenggara sadar melakukan kecurangan tetapi dibenarkan dan bahkan akan
dibela oleh yang berkuasa. Dan ini merupakan budaya buruk dalam praktek
politik. Dan bahkan untuk menutupi propaganda para elit agama yang selalu
dijadikan sebagai jalan menuju kedamaian.
Karena elit politik percaya bahwa jika
para pemimpin (elit) agama sudah berada di pihak mereka, rakyat (umat) akan
mengikuti pimpinannya. Padahal elit politik sadar bahwa ada pemisahan agama
dengan negara. Maka elit agama selalu bebas dari dunia politik. Kebebasan
beragama umumnya dikaitkan dengan pemisahan negara dan agama (Eisgruber &
Sager 2009). Tujuan pemisahan ini untuk masing-masing pihak berjalan sesuai
dengan bagiannya. Tetapi elit politik di posisi tertentu harus berlindung dalam
agama untuk menutupi tindakan yang tidak diterima oleh rakyat. Aturan tentang
kebebasan beragama tidak terfokus pada pelaksanaan kebebasan beragama, seperti
yang dipersyaratkan oleh konstitusi, tetapi lebih pada isu-isu yang berkaitan
dengan dukungan partai politik tertentu. (Delmus Puneri Salim, 2016).
Partai politik yang selalu menggunakan
elit agama adalah partai politik berkuasa. Agama kurang berpengaruh ketika para
ulama tidak lebih saleh daripada pengikut setia, ... Cara untuk memberikan
pembenaran diri, yang sesuai dengan penipuan diri. (Maurice Duverge, 2014).
Disadari atau tidak hanya elit partai politik yang tahu. Karena prinsip elite
ambisi kekuasaan tidak mementingkan persepsi masyarakat. Yang penting elit
partai politik memainkan suatu situasi untuk merebut kekuasaan. Seringkali elit
partai politik menjadi lelucon publik ketika berdebat untuk menutupi segala
kekurangan atau penipuan. Namun ini semua adalah budaya politik dengan slogan
politik adalah segala kemungkinan.
Agen
Propaganda
Untuk menjalankan propaganda elit partai
politik mengikut sertakan banyak pihak. Terutama pihak-pihak yang setia atau
loyal kepada penguasa. Dasar penyebaran propaganda yang dilakukan elit partai
politik yang kalah merupakan ancaman bagi elit partai politik yang sedang
berkuasa. Ketika pesan yang disebarakan terlepas dari benar atau tidak yang
paling penting adalah respon publik. Ketika sudah ada respon dari publik
tentang pesan yang disampaikan elit partai politik merupakan nilai tersendiri.
Maka Riker (1990) mengkonsepsiskan rasionalitas politik sebagai tindakan para
actor yang “mampu mengatur (menentukan) sasaran, nilai, selera, dan strategi
alternative” dan yang “memilih dari alternative-alternatif yang tersendia untuk
memaksimalkan kepuasaan mereka, (Richard A. Wandling, 2013).
Disamping itu propaganda yang dilakukan
elit partai politik adalah sebuah usaha secara konsisten dan terus menerus
untuk menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan
rakyat pendukung atau basis konstituen. Cara yang selalu digunakan antara lain,
(a) penyebutan nama (name calling);
(b) menyampaikan sesuatu yang umum (glittering
generality); (c) transfer dukungan politik; (d) testimoni tokoh; (e) bertindak seperti rakyat yang lugu;
dan (f) gerakan populer yaitu mengklaim dukungan dan memancing kemauan publik,
(Lasswell, H.D.,1938). Hal-hal ini yang selalu dimaikan oleh elit partai politik
diarena kekuasaan. Baik pihak yang sedang berkuasa maupun pihak yang berada di
luar kekuasaan.
Hal ini dapat dilihat dari banyak janji
politik yang tidak dapat direalisasikan oleh elit partai politik. Tidak
terrealisasinya janji politik elit partai politik disebabkan pertarungan antar
elit politik diarena politik itu sendiri. Para elit propagandis beraksi hal
yang diperhatikan adalah reaksi-reaksi yang diberikan oleh targetnya dan
berupaya mengefektifkan propaganda yang dilancarkannya. Dan untuk menjalankan
propaganda disetiap partai politik sudah menentukan figure atau individu yang
dianggap mampu memainkan semua hal baik secara langsung tidak langsung saat
menghadapi pihal lain (lawan). Sebab propaganda akan semakin seru ketika ada
respon dari publik (rakyat). Sehingga elit partai politik dianggap cerdas
memainkan lidah di panggung politik yang selalu ditampilkan sebagai sutradara
propaganda. Seperti Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler,
mengatakan: "Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan
yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya." Tentang
kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar
ialah kebenaran yang diubah sedikit saja, (Herz, R., Loiperdinger, M., and
Pohlmann, U, 1995).
Maka ada beberapa pihak yang selalu
dijadikan sebagai agen propaganda, (a) partai politik, (b) kelompok kepentingan,
(c) tokoh (elit) masyarakat, dan (d) tokoh (elit) agama. Semua akan menjalan
apa saja yang diperintahkan oleh pihak yang sedang berkuasa. Sekalipun mereka
secara pribadi sadar bahwa hal tersebut tidak boleh karena menipu baik diri
sendiri maupun kepada rakyat, tetapi demi menjaga dan menjamin penguasa itu
sendiri. Disisi lain faktor saling ketergantungan dan emosional.
KESIMPULAN
Sistem demokrasi partai politik sebagai
jalan menuju kekuasaan. Sebab negara yang berbentuk kerajaan tetapi menganut
sistem demokrasi maka partai politik yang memegang peranan penting untuk mengatur
nasib rakyat. Partai politik yang akan menentukan atau mengutus kadernya untuk
bertarung merebut kekuasaan dari tangan rakyat. Pada tahap pertarungan ini
setiap elit (kader) partai politik memainkan semua cara untuk mendapatkan
simpati rakyat. Untuk mendapatkan simpati rakyat para elit partai politik
menggunakan semua cara dan sarana yang ada. sekalipun cara atau apa yang
dilakukan elit politik itu tidak benar.
Elit partai politik sangat bertarung
untuk mendapatkan keinginan akan mengabaikan kebenaran. Keinginan elit partai
politik adalah, (a) keinginan terbuka, dan (b) keinginan terttutup. Keinginan
yang terbuka diantaranya keinginan untuk berkuasa. Hal ini dapat dilihat saat
ada proses pergantian penguasa para elit partai politik bersaing ketat untuk mendapatkan
rekomendasi dari partai. Dan yang selalu memberikan rekomendasi adalah pemegang
otoritas partai politik yang bersangkutan. Ada partai politik yang menggunakan
sistem kolektif, kolegia dimana semua keputusan berdasarkan kesepakatan
(musyawarah). Sedangkan ada partai pemegang otoritas adalah pemilik (pendiri)
partai politik. Pada sistem ini anggota partai harus mengusulkan beberapa nama
baru diserahkan kepada pemegang otoritas untuk menentukan. Dan pada sistem
pemegang otoritas adalah pemilik partai memiliki otoritas untuk menerima atau
menolak. Jika menerima maka akan memilih salah dari sekian orang yang
diusulkan. Namun menolak maka akan menentukan figure (kandidat) diluar dari
yang diusulkan.
Pada sistem otoritas partai politik ada
kekuasaan diatas kekuasaan. Dimana kekuasaan ekternal dan kekuasaan internal.
Kekuasaan ekternal adalah penguasa yang mendapatkan legitimasi kekuasaan dari
rakyat untuk berkuasa bagi seluruh rakyat. Sedangkan kekuasaan internal adalah
penguasa yang menguasai penguasa eksternal karena mendapatkan rekomendasi.
Dengan sistem otoritas partai politik menjadi penyebab penguasa yang
mendapatkan legitamasi dari rakyat lebih banyak mengabaikan nasib rakyat.
Indikator mengabaikan nasib rakyat yaitu tidak mengimplementasikan program
kerja (janji) kampanye. Sedangkan rakyat memilih atau memberikan legitimasi
karena program kerja lewat kampanye.
Dan pada sistem otoritas partai politik merupakan indikator penguasa yang ambisius. Ambisinya dapat dilihat dari (a) menguasai individu yang berkuasa, (b) yang berkuasa harus sesuai pilihannya, (c) kekuasaan harus berada di partai politiknya. Untuk mempertahakan kekuasaan sesuai dengan sistem otoritas partai politik maka propaganda adalah pilihan terakahir. Propaganda jadi pilihan karena ketika mengikuti prosedur yang sesuai dengan UU maka dengan sendirinya kekuasaan akan berpindah ke partai politik yang lain. Langkah memainkan propaganda adalah mendekati partai politik yang lain. Pendekatan kepada partai politik merupakan sebuah transaksi politik. Sebab di arena politik apa yang harus didapatkan. Dan ketika sudah ada kesepakatan maka partai politik tersebut yang akan menjadi pembenar atau menjadi saksi kebenaran
Dan pada sistem otoritas partai politik merupakan indikator penguasa yang ambisius. Ambisinya dapat dilihat dari (a) menguasai individu yang berkuasa, (b) yang berkuasa harus sesuai pilihannya, (c) kekuasaan harus berada di partai politiknya. Untuk mempertahakan kekuasaan sesuai dengan sistem otoritas partai politik maka propaganda adalah pilihan terakahir. Propaganda jadi pilihan karena ketika mengikuti prosedur yang sesuai dengan UU maka dengan sendirinya kekuasaan akan berpindah ke partai politik yang lain. Langkah memainkan propaganda adalah mendekati partai politik yang lain. Pendekatan kepada partai politik merupakan sebuah transaksi politik. Sebab di arena politik apa yang harus didapatkan. Dan ketika sudah ada kesepakatan maka partai politik tersebut yang akan menjadi pembenar atau menjadi saksi kebenaran
Komentar
Posting Komentar